Minggu, 10 April 2011

Ajahn Brahm, Si Winnie the Pooh (sumber, KOMPAS 10 April 2011)


 oleh : Maria Hartiningsih

Andai Ajahn Brahmavamso (60) tidak menjadi bhikku, barangkali dia sudah jadi pelawak atau aktor. Ceramahnya ringan, segar, dan jenaka. Lelucon-leluconnya mengandung pesan moral tak bersekat, tidak menggurui, tidak menghakimi dan langsung kena di hati. 

Kisah-kisah yang disampaikan Ajahn Brahm, begitu sapaannya, merupakan antitesis dari seluruh standar yang dibangun di atas gagasan umum tentang ”kesuksesan” dan ”keberhasilan”. Melalui cerita, ia mengajak orang memasuki esensi hidup; wilayah lebih dalam dari ”kulit luar” kehidupan yang memesona, sekaligus mengikat, melekat.

”Kalau saya tahu akan menjadi bhikku, saya tak perlu belajar sekeras itu di universitas hahahaha...” ujar Ajahn Brahm, membuka ceramah Minggu (27/3) petang bertema ”Let Go Ego” di Jakarta, yang dihadiri lebih 5.000 orang.

”Begitu menjadi bhikku, saya harus melepas semuanya, termasuk melepas banyak pacar… hehehe..... Begitu melepas semua, saya merasa sangat bahagia…” ujarnya.
Melepas, menanggalkan, meninggalkan adalah esensi Dharma yang sangat ia pahami setelah sembilan tahun menjadi petapa di hutan Thailand. ”Jika Anda benar paham fisika kuantum, Anda harus mampu membuat pelayan bar paham,” begitu kata pakar fisika kuantum, Werner K Heisenberg.

”Bercerita adalah cara yang indah untuk menyampaikan pesan,” ujar Ajahn Brahm, ketika ditemui di Jakarta, Senin (28/3) pagi, di ujung akhir 15 acara di berbagai kota selama 10 hari di Indonesia.
”Suatu cerita akan menghubungkan pengalaman orang yang satu dengan yang lain karena kita berada di dalam jaring kehidupan.”

Cerita keledai
Ajahn Brahm dikenal sebagai ”Ajahn Nike” karena selalu mengatakan just do it (lakukan saja)—promosi dagang sepatu merek Nike—untuk mendorong agar orang tidak mengeluh dan menggerutu. ”Semua pengalaman adalah pupuk bagi hidup,” katanya.

”Suatu ketika ada seekor keledai yang menjelajah hutan dengan riang, sampai tak sadar ia terperosok ke dalam sumur tua. Untung sumur itu kering dan tak terlalu dalam. Tetapi, keledai tak bisa memanjat, jadi ia berteriak, minta tolong, E..o.. eeoo eeooo.. ”

Suara itu memancing seorang petani mendekat. Petani itu benci keledai, tetapi ia juga tahu, sumur itu sumber bahaya. Maka, dengan sekopnya, ia mengisi tanah ke dalam sumur untuk mengubur si keledai hidup-hidup, sekaligus menutup sumur. Menyadari yang terjadi, si keledai menjerit. Ia sedih dan takut.

Setelah beberapa saat, keledai itu mendapat apa yang dalam pandangan Buddha disebut ”pandangan cerah”. Ia merangkul kekinian, dan... just do it. Tak ada suara lagi, sampai petani itu berpikir, ”Terkubur sudah keledai bego itu.”

Padahal, setiap sekop tanah yang menimpa punggungnya, si keledai menggoyang luruh tanah itu, lalu menginjak-injaknya hingga padat di bawah. Maka ia naik satu inci lebih tinggi. Begitu seterusnya. Petani yang sibuk menyekop tanah tak menyadari sepasang telinga mulai muncul di mulut sumur. Ketika pijakan sudah cukup tinggi. Keledai itu melompat keluar dari sumur dan melarikan diri.
”Saya ceritakan kisah ini pada Presiden Sri Lanka. Saya bilang, jika menghadapi kritik, berlakulah seperti keledai, goyang, luruhkan, dan Anda seinci lebih tinggi. Anda hanya perlu merangkul kekinian,” ujar Ajahn Brahm, ”Itulah let go ego....”

Maksudnya?
”Jangan biarkan orang lain merenggut kebahagiaanmu dengan membuatmu marah, kecewa, sedih,” ia menjelaskan makna melepas ego, yang dalam hidup sehari-hari dipahami sebagai ”menerima dengan keikhlasan yang tulus”.

Cinta dan welas asih
Namun, tindakan melepas ego tak semudah mengucapkannya. Orang bertahan hidup dengan ego, kemudian sulit mengendalikannya. Ketika nafsu keinginan yang tak ada batasnya menguasai pikiran, orang tak tahu batas cukup dan tak bisa mensyukuri karunia hidup.
”Sandaran kebahagiaan bukan hal-hal yang bersifat material, ’kulit luar’ itu,” ujar Ajahn Brahm.
Menurut dia, segala bentuk kekerasan di dunia disebabkan oleh ego, oleh rasa takut dikalahkan. ”Terlalu banyak kompetisi, dan sangat sedikit kerja sama,” tuturnya.

Pendidikan bisa memutus rantai itu, kata Ajahn Brahm. Sejak dini, anak dilatih menyeimbangkan kerja sama sosial dengan prestasi pribadi. Dimulai dengan 70 persen prestasi pribadi dan 30 persen nilai rata-rata kelas, sampai benar-benar seimbang. Itu akan mendorong anak bekerja sama untuk menutup kekurangan teman.
”Kementerian Dalam Negeri Inggris dari kabinet lalu memberi promosi bagi kerja sama, bukan prestasi pribadi. Penghargaan pada proses, bukan hasil akhir, pada ketulusan, kejujuran. Alangkah damainya kalau kita bisa menanggalkan gagasan menjadi yang terhebat,” kata Ajahn Brahm.
Gagasan itu melawan dalil umum tentang kemenangan sebagai hasil kompetisi sehingga acap dicapai dengan kecurangan. Di bidang politik, misalnya, terlihat sangat jelas, meski atas nama demokrasi. Padahal, cara itu berlawanan dengan arti ’kandidat’, yang berasal dari kata Latin candidatus, artinya putih.

”Pada zaman Romawi, kandidat posisi politik menggunakan jubah putih dalam kampanye pemilihan umum. Warna putih melambangkan bersih dari dosa, kemurnian, ketulusan,” jelasnya.
Menurut Anda, apa persoalan terbesar di dunia saat ini?
Kompetisi membuat orang kehilangan cinta dan welas asih. Situasi seperti ini membahayakan kehidupan karena menghancurkan kemanusiaan. Mari memahami bahwa bumi ini adalah rumah kita bersama. Kita saling terkait, terhubung, dan saling bergantung. Kita ini satu. Mari bekerja sama dengan tulus untuk menyelamatkan kemanusiaan dan bumi kita bersama.

Merangkul
Sosok Ajahn yang kocak, jenaka di atas panggung berbeda dengan sosoknya ketika ia ditemui secara khusus. Senyumnya lepas, namun ia lebih serius. Sorot matanya tajam dan terasa mampu membaca gerak pikiran lawan bicaranya.
Ia menyebut secara khusus nama Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, dan Abdurrahman Wahid sebagai tokoh yang merangkul dan menolak kekerasan. Beberapa kali Ajahn Brahm juga diundang ke acara lintas agama. Pernah, undangan disampaikan lewat telepon, dan ia diminta mengeja namanya. Ia mengejanya, ”B untuk Buddhis, R untuk Roma Katolik, A untuk Anglikan, H untuk Hindu, M untuk Muslim....”

Menurut Ajahn Brahm, meditasi dan memaafkan merupakan sumbangan Buddhisme pada dunia. Pada semua jenis mistisisme dari berbagai tradisi spiritual, meditasi merupakan jalan menuju pikiran yang murni dan kokoh. Di puncak keheningan akan dipahami apa yang disebut ”diri”, ”Tuhan”, ”dunia”, ”alam semesta”, dan segalanya.
Kisah favorit Ajahn Brahm adalah Winnie the Pooh, beruang lembut yang tak pernah belajar di sekolah. Ia adalah beruang dengan otak kecil yang membuatnya sangat bijak. Ia tidak berpikir, tetapi melihat dan mengetahui sehingga ia begitu mudah dicintai.

Anda ingin menjadi siapa dalam cerita itu?
Winnie the Pooh hehehe…
Yang membuat Anda sedih atau menyesal?
Penyesalan dan kesedihan tak punya arti khusus buat saya karena saya telah melepas masa lalu. (Dalam salah satu ceramahnya, ia bercerita saat ayah yang sangat ia cintai meninggal. Ketika keluar dari krematorium di tengah gerimis tipis, ia tahu tak akan bisa bersamanya lagi. Namun, ia tidak menangis. Suara hatinya mengatakan, ”Ayah saya sungguh hebat. Hidupnya merupakan inspirasi luar biasa. Betapa untungnya saya telah menjadi putranya. Waktu itu saya menggenggam tangan ibu saya menuju perjalanan panjang masa depan. Saya merasa bahagia, seperti baru saja usai menonton konser terhebat. Saya tak akan pernah melupakannya. Terima kasih, Ayah...”)
Tentu saja ada banyak kesedihan jika Anda melihat tsunami di Jepang, menyaksikan orang berkelahi, berperang. Daripada sedih, saya melakukan sesuatu. Itu sebabnya saya banyak melakukan perjalanan dan berbagi.

Yang membuat Anda bahagia?
Yang paling penting adalah kebahagiaan saya sendiri dan kebahagiaan orang lain. Namun, setelah bertahun-tahun hidup sebagai petapa, saya tak mampu lagi membedakan antara kebahagiaan orang lain dan kebahagiaan saya. Itu sebabnya saya bepergian dan melayani sebanyak mungkin, memberi ceramah, menceritakan kisah-kisah kocak, membuat orang tertawa.
Anda bisa marah?
Hhmmm... Anda harus berusaha keras untuk membuat saya marah hahahaha....

Kompas, Minggu 10 April 2011

Rabu, 16 Maret 2011

Bell Nanthita - he is perpect as a woman...

Waw...pagi-pagi aku melihat berita di yahoo yang begitu menyegarkan...ya Tentang Acara Thailand Got Talent...ada seorang peserta yang bernama Bell Nanthita. Berparas cantik dan bersuara merdu.. mungkin banyak artis terkenal yang memiliki klasifikasi seperti itu...cantik dan bersuara merdu.....tapi...ohhhhhhhhhhhh....ternyataaaa........dulunya ia seorang "pria" hihihihi....penasaran....silahkan nikmati video dibawah ini... Be Happy
Buat para pria..HATI-HATI NAKSIR...wkwkw...


Yahoo Indonesia ,
Dengan kulit putih mulus, rambut hitam mengilap, dan hidung bangir, Bell Nuntita terlihat cantik bak seorang model. Saat ia menyanyi, suaranya merdu mendayu, membuat para penonton dan juri Thailand's Got Talent terpana.

Tak ada yang aneh dengan pemandangan itu. Tampaknya seperti sesi audisi biasa di sebuah kontes pencarian bakat. Namun kemunculan Bell Nuntita malam itu begitu mengesankan banyak orang, sehingga 'gadis' cantik ini langsung jadi perbincangan di dunia maya.

Ini karena Bell bukan sekadar penyanyi biasa. Ia dilahirkan sebagai laki-laki, tapi kini mengklaim dirinya seorang perempuan. Dan di panggung audisi Thailand's Got Talent malam itu, Bell tak segan menunjukkan keunikannya dengan cara menyanyikan separuh lagu dengan suara perempuan, dan menyelesaikan lagu dengan suara aslinya yang berat dan dalam.

Memang tak salah kalo Bell sedikit mengingatkan kita pada Hudson, kontestan Indonesia Mencari Bakat yang juga punya dua 'kepribadian' dan dua jenis suara. Bedanya, Hudson laki-laki asli yang suka tampil sebagai separuh perempuan, sedangkan Bell... Yah, bisa dibilang Bell adalah perempuan tulen. Meskipun dulunya laki-laki.

APABILA ANDA MERASAKAN MANFAAT DARI ARTIKEL INI klik link ini   Be Happy!  :)

Jumat, 11 Maret 2011

Gempa dan Tsunami Jepang 11 Maret 2011

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejumlah foto detik-detik terjadinya tsunami di pantai timur Jepang disiarkan melalui jaringan kantor berita. Foto diambil dari rekaman video langsung kru stasiun televisi NHK.
Tsunami dipicu oleh gempa dahsyat berkekuatan 8,9 SR yang menghantam timur laut Jepang, Jumat siang. Asap hitam juga membubung dari kawasan industri di daerah Yokohama Isogo. Tayangan televisi menunjukkan bahwa perahu, mobil, dan truk hanyut disapu tsunami. Sebuah jembatan, lokasinya tidak diketahui, tampak runtuh ke dalam air.
Badan Survei Geologi AS (USGS) sebelumnya menyatakan bahwa gempa tersebut berkekuatan 7,9 SR dan berpusat di kedalaman 24,3 km sekitar 130 km di sebelah timur Sendai di pulau utama Honshu. Namun, USGS kemudian menyatakan bahwa gempa berkekuatan 8,9 SR.


Jakarta, DETIK.com - Gempa yang disusul oleh gelombang tsunami juga terjadi di Oarai, sebuah kota pelabuhan yang berjarak sekitar 1 jam perjalanan dari Tokyo. Warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal di kota kecil tersebut menyelamatkan diri ke dataran tinggi.

"Kami bersama sejumlah WNI mengungsi di Gereja Interdenominasi Injili Indonesia Oarai yang terletak di dataran tinggi Oarai," kata salah satu WNI di Oarai, Sterly Makalew, kepada detikcom, Jumat (11/3/2011).

Menurut Sterly, saat ini kekacauan sedang terjadi di Oarai. Listrik dan saluran komunikasi terganggu, hanya jaringan 3G yang berjalan. Pemerintah Oarai telah meminta warga mengungsi di sejumlah tempat seperti sekolah dan lapangan terbuka.

"Gempa yang terasa di Kota Oarai saat ini masih terus terjadi dengan skala yang lumayan besar dan frekuensi yang hampir setiap menit terjadi," ucap dia.

Sebelumnya, Sterly mengungkapkan, air laut setinggi 0,5 meter naik ke daratan Oarai pasca gempa besar pertama terjadi.

Gempa di Jepang berkekuatan 8,9 lalu disusul 8,5. Gempa ini memicu terjadinya gelombang tsunami di pesisir timur Pulau Honshu, seperti di Miyagi dan Hokkaido. Tsunami ini sekitar 10 meter.


(irw/nrl)

TOKYO - Gempa bumi dengan kekuatan 8,8 SR menghamtam Jepang. Akibat gempa yang berkuatan dahsyat ini menyebabkan bencana tsunami setinggi 6 meter Honshu. Kerusakan parah juga terlihat dilokasi yang diterjang gempa.

Berdasarkan laporan THE Pacific Tsunami Warning Center di Hawaii, beberapa negara juga harus wapada dengan tsunami susulan. Negara yang wajib ekstra waspada adalah Rusia, Marcus Island, dan Marianas Utara.

Lembaga penyiaran publik, NHK juga menunjukkan asap hitam mengepul dari sebuah bangunan di Odaiba, daerah pinggiran Tokyo. Kegiatan kereta cepat diseluruh utara Jepang itu dihentikan. Televisi menunjukkan mobil terayun-ayun air di sisi perahu yang tengah bersandar.

Badan meteorologi Jepang mengingatkan bahwa tsunami setinggi 6m juga bisa menerjang pantai dekat prefektur Miyagi, terdekat dengan pusat gempa.

Badan itu mengatakan gempa terjadi pukul 14:46 pada (13:46 waktu Singapura) Jumat di kedalaman 10 km, sekira 125 km lepas pantai timur.

Akibat tsunami tersebut banyak bangunan dilaporkan hancur. Namun belum ada laporan mengenai korban jiwa akibat tsunami tersebut.(fmh)


post by Derby Khouw
APABILA ANDA MERASAKAN MANFAAT DARI ARTIKEL INI klik link ini   Be Happy!  :)

Jumat, 18 Februari 2011

悟 WU (sadar) OST SHAOLIN

WU (sadar) OST SHAOLIN 
Singer: Andy Lau
Lyrics: Andy Lau
Music: Zhao Qin

lirik soundtrack film shaolin

无量心 生福
Wu liang xin, sheng fubao, wu jixian 
Kediaman Luhur[1], menghasilkan pahala baik, tidak terhingga

生息息 爱相连 
Wu jixian, shengxixi, ai xianglian
Tidak terhingga, hidup, dihubungkan oleh cinta

为何君视而不见 规矩定方圆 
Weihe jun shi’erbujian, guiju ding fangyuan
Mengapa Anda memandang namun tak melihat, peraturan menetapkan batasan

悟性 悟空 心甘情愿 
Wuxing, wujue, wukong, xin gan qing yuan
Kesadaran, sadar, menyadari kekosongan, kerelaan


放下 颠倒梦想 放下云烟 
Fang xia diandao mengxiang, fang xia yunyan
Melepaskan khayalan/keinginan yang terbalik/keliru[2], melepaskan awan dan asap kabut

放下 空欲色 放下悬念
Fang xia kong yu se, fang xia xuannian
Melepaskan kekosongan, hawa nafsu, dan rupa[3], melepaskan kekhawatiran


多一物 却添了 太多危  
Duo yi wu que tian le tai duo weixian
Memiliki lebih banyak suatu benda, namun menambah terlalu banyak bahaya

少一物 贪嗔痴 会少一点
Shao yi wu, tan chen chi, hui shao yi dian
Memiliki lebih sedikit satu benda, ketamakan, kebencian, dan kekotoran batin dapat berkurang sedikit

若是 再苦味也是甜
Ruo shi yuan, zai kuwei, ye shi tian
Jika jodoh, sepahit apapun, tetaplah manis

若无 在心田
Ruo wu yuan, cang ai zai xin tian
Jika tidak berjodoh, menyimpan cinta di dalam hati

尘世 藕断 还丝连 回首一瞬 
Chen shi, ouduan hai silian, huishou yi shun jian
Dunia fana, sudah diputus namun masih tetap berhubungan, dengan sekejap berbalik kembali

种颗善因 走好 一天  
Zhong ke shanyin, pei ni zou hao mei yi tian
Tanamlah sebuah akar kebajikan, menemani kamu melewati dengan baik keseharian kamu

唯有 心无挂碍 成就大愿 
Wei you, xin wu gua ai, chengjiu da yuan
Hanya ketika batin terlepas dari kegelisahan[4], mewujudkan tekad agung[5],

唯有 心无故 妙不可言  
Wei you, xin wu gu, miao bu ke yan
Hanya ketika batin tanpa niat (?)[6], sangat luar biasa.

算天算地 算尽了 从前 
Suan tian suan di, suan jin le congqian
Menghitung langit, menghitung bumi, telah menghitung habis masa lalu,

算不出 生死 会在一天 
Suan bu chu shengsi hui zai na yi tian
Tidak dapat menghitung kelahiran dan kematian kapan akan datang

勿生恨 点化虚空的眼
Wu sheng gen, dianhua xukong de yan
Jangan membangkitkan rasa benci, bukalah mata yang kosong

勿生怨 欢喜 不遥
Wu sheng yuan, huanxi bu yaoyuan
Jangan membangkitkan kemarahan/dendam, maka kebahagiaan tidaklah jauh


缠绕 欲望的思念 恶一瞬间 
Chanrao yuwang de sinian, shan e yi shun jian
Kerinduan yang meliputi hawa nafsu, kebajikan dan ketidakbajikan amat cepat berubah

怀忏悔 走好 一天 
Xin huai chanhui, pei ni zou hao mei yi tian
Batin dipenuhi pertobatan, menemani kamu melewati dengan baik keseharian kamu

再牢的谎言 却逃不 过天眼  
Zai lao de huangyan, que tao bu guo tianyan
Dusta yang sekuat apa pun, tidak dapat mengelabui mata batin[7],

明日之前 心流  
Mingri zhiqian, xin liuli geng yuan
Sebelum hari esok, batin telah mengembara semakin jauh,

浮云霎那 障眼 人心渐离间 
Fu yun shanajian, zhang yan, ren xin jian lijian
Awan yang melayang, pada saat itu menutupi mata, batin manusia perlahan saling menjauh

集苦连连 不断的出  
Ji ku lian lian, bu duan de chuxian
Mengumpulkan penderitaan yang terus-menerus, muncul tanpa henti

无量心 生福  
Wu liang xin, sheng fubao, wu jixian
Kediaman Luhur, menghasilkan pahala baik, tidak terhingga

生息息 爱相连 
Wu jixian, shengxixi, ai xianglian
Tidak terhingga, hidup, dihubungkan oleh cinta

凡人却视而不见 规矩定方圆 
Fan ren que shi’erbujian, guiju ding fangyuan
Tetapi umat awam memandang namun tidak melihat, peraturan menetapkan batasan

悟性 悟空 心甘情愿 
Wuxing, wujue, wu kong, xin gan qingyuan
Kesadaran, sadar, menyadari kekosongan, kerelaan

简简单单 走好 一天
Jian jian dan dan pei ni zou hao mei yi tian 
Dengan sederhana, menemani kamu melewati dengan baik keseharian kamu


Catatan:
[1] Brahmavihara 4: Metta (cinta kasih), Karuna (kasih sayang), Mudita (turut bergembira atas kebahagiaan makhluk lain), Upekkha (keseimbangan batin)

[2] 颠倒梦想, salah satu bait dalam Sutra Hati… “ 远离颠倒梦想”: terlepas dari khayalan/keinginan yang terbalik/keliru, yang menyebabkan penderitaan

[3] 空欲色untuk sementara diterjemahkan menjadi kekosongan, hawa nafsu dan rupa, karena sepertinya berasal dari nama-nama alam (空界akasa-dhatu, 欲界kama-dhatu, 色界rupa-dhatu), tapi belum 100% yakin

[4] 心无挂碍xīn wú guà ài, salah satu bait dari Sutra Hati, yang artinya “batin terlepas dari kegelisahan”

[5] Tekad agung yang dibuat oleh Bodhisattva. Contoh: 12 tekad agung Avalokitesvara Bodhisattva, dsb.

[6] Belum yakin dengan makna 心无故

[7] Dibbacakkhu

download MP3 

post by Derby Khouw
APABILA ANDA MERASAKAN MANFAAT DARI ARTIKEL INI klik link ini   Be Happy!  :)

Minggu, 13 Februari 2011

Valentine - Day of L.O.V.E


Hai..hai.. today is Valentine Day.. taukah kalian bagaimana sejarahnya hari valentine

berikut saya kutipkan artikel tentang sejarah hari valentine

Asal Muasal Hari Valentine :

Perayaan hari Valentine termasuk salah satu hari raya bangsa Romawi paganis (penyembah berhala), di mana penyembahan berhala adalah agama mereka semenjak lebih dari 17 abad silam. Perayaan valentin tersebut merupakan ungkapan dalam agama paganis Romawi kecintaan terhadap sesembahan mereka.

Perayaan Valentine's Day memiliki akar sejarah berupa beberapa kisah yang turun-temurun pada bangsa Romawi dan kaum Nasrani pewaris mereka. Kisah yang paling masyhur tentang asal-muasalnya adalah bahwa bangsa Romawi dahulu meyakini bahwa Romulus (pendiri kota Roma) disusui oleh seekor serigala betina, sehingga serigala itu memberinya kekuatan fisik dan kecerdasan pikiran. Bangsa Romawi memperingati peristiwa ini pada pertengahan bulan Februari setiap tahun dengan peringatan yang megah. Di antara ritualnya adalah menyembelih seekor anjing dan kambing betina, lalu dilumurkan darahnya kepada dua pemuda yang kuat fisiknya. Kemudian keduanya mencuci darah itu dengan susu. Setelah itu dimulailah pawai besar dengan kedua pemuda tadi di depan rombongan. Keduanya membawa dua potong kulit yang mereka gunakan untuk melumuri segala sesuatu yang mereka jumpai. Para wanita Romawi sengaja menghadap kepada lumuran itu dengan senang hati, karena meyakini dengan itu mereka akan dikaruniai kesuburan dan melahirkan dengan mudah.

Sejarah hari valentine I :
Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Tahu gak dewa Zeus? itu bokap-nye hercules.

Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.


Sejarah Valentine's Day II :
Menurut Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda yaitu dibawah ini:
  • pastur di Roma
  • uskup Interamna (modern Terni)
  • martir di provinsi Romawi Afrika.
Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak jelas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Sejarah hari valentine III :
Catatan pertama dihubungkannya hari raya Santo Valentinus dengan cinta romantis adalah pada abad ke-14 di Inggris dan Perancis, di mana dipercayai bahwa 14 Februari adalah hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis pada karya sastrawan Inggris Pertengahan bernama Geoffrey Chaucer. Ia menulis di cerita Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung) bahwa:
For this was sent on Seynt Valentyne's day (Bahwa inilah dikirim pada hari Santo Valentinus) Whan every foul cometh ther to choose his mate (Saat semua burung datang ke sana untuk memilih pasangannya)

Pada jaman itu bagi para pencinta sudah lazim untuk bertukaran catatan pada hari valentine dan memanggil pasangan Valentine mereka. Sebuah kartu Valentine yang berasal dari abad ke-14 konon merupakan bagian dari koleksi naskah British Library di London. Kemungkinan besar banyak legenda-legenda mengenai santo Valentinus diciptakan pada jaman ini. Beberapa di antaranya bercerita bahwa:

  • Sore hari sebelum santo Valentinus akan mati sebagai martir (mati syahid), ia telah menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis "Dari Valentinusmu".
  • Ketika serdadu Romawi dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II, santo Valentinus secara rahasia membantu menikahkan mereka diam-diam.
Pada kebanyakan versi legenda-legenda ini, 14 Februari dihubungkan dengan keguguran sebagai martir.

Sejarah Valentines Day IV :
Kisah St. Valentine

Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.

Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar alias benul eh betul.

Pada hari saat ia dipenggal alias dipancung kepalanya, yakni tanggal 14 Februari gak tahu tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.

Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Kamis, 10 Februari 2011

Pindapatta - Tradisi para BUDDHA


Thanks for BUMI (Buddhis Muda Indonesia) Tangerang for share this article..let me share this artikel for more people. :) 

 
Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan pindapatta? 

Pindapata berasal dan dua suku kata, yaitu: Pinda dan Patta. Pinda berarti gumpalan/bongkahan (makanan) dan Patta berarti mangkuk makan. Jadi dapat diartikan pindapata adalah pengumpulan makanan dengan mangkuk oleh para bhikkhu dari rumah ke rumah penduduk. 


Bagi bhikkhu yang menjalankan praktik keras (Dhuthanga) harus melakukan pindapata sebagai salah satu peraturan praktiknya. Ada lima peraturan tentang makanan bagi bhikkhu yang menjalani praktik Dhutanga ini, yaitu: 
  • tekad hanya makan dari hasil pindapata (pindapatikanga)
  • tekad untuk menerima dana dari rumah ke rumah tanpa kecuali (sapadanacarikanga)
  • tekad makan tanpa selingan (ekasanikanga)
  • tekad memakan hanya makanan yang ada dalam mangkuk (pattapindikanga)
  • dan tekad tidak makan lagi setelah selesai makan (kalupacchabhattikanga).


Asal mula tradisi pindapatta. 

Pada zaman dahulu, para petapa umumnya meminta dana makanan ke rumah-rumah penduduk untuk memenuhi kebutuhan makan mereka. Begitu pula dengan Sang Buddha, setiap pagi Sang Buddha dan rombongan para bhikkhu pergi meninggalkan vihara, memasuki desa atau kota untuk berpindapata. Pindapata ini merupakan suatu cara pendekatan masyarakat secara Agama Buddha. Tak jarang ketika Sang Buddha dan para bhikkhu berpindapata, masyarakat tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Sang Buddha atau para bhikkhu, seperti Upatissa yang begitu terkesan melihat bhikkhu Assaji yang sedang berpindapata atau Bahiya yang berpakaian kulit kayu (Bahiyadaruciriya) berjumpa Sang Buddha saat Beliau berpindapata dan memohon Sang Buddha memberikan uraian Dhamma. Mereka berdua pada akhirnya tertarik untuk menjalani kehidupan kebhikkhuan, Upatissa kelak dikenal dengan nama Sariputta, namun kondisi karma buruk Bahiya berbuah, Beliau meninggal diseruduk sapi (jelmaan Asura) ketika mencari perlengkapan kebhikkhuannya, tetapi Bahiya telah mencapai tingkat kesucian Arahat setelah ia mendengar beberapa kalimat Dhamma dari Sang Buddha. 



Bagaimanakah asal mula dan tradisi pindapatta ini bemula?
 


Pada tahun ketiga, Sang Buddha kembali ke Kapilavatthu atas undangan dari Raja Suddhodana. Beliau beserta rombongan yang berjumlah dua puluh ribu bhikkhu berangkat dari Rajagaha menuju Kapilavatthu. 


Sang Buddha beserta rombongan tiba di Kapilavatthu dan berdiam di Nigrodarama. Raja Suddhodana dan penduduk berduyun-duyun menemui Sang Buddha. Karena mengetahui bahwa para orang tua suku Sakya memiliki watak yang sombong, Sang Buddha menunjukkan keajaiban ganda (yamakapatihariya) kepada mereka. Api menyala di bagian atas tubuh Beliau dan air memancar dari tubuh bagian bawah dan sebaliknya. Setelah orang-orang suku Sakya dapat diyakinkan bahwa Sang Buddha telah mencapai ke-Buddha-an, kemudian Beliau duduk dengan tenang di tempat yang telah disediakan. 


Raja Suddhodana menanyakan kabar Sang Buddha dan mengajukan beberapa pertanyaan lainnya kepada Beliau. Di akhir tanya-jawab Raja Suddhodana berhasil memperoleh mata Dhamma dan menjadi seorang Sotapanna. Berhubung tidak mendapat undangan makan di istana, maka keesokan harinya Sang Buddha berserta rombongan memasuki kota Kapilavatthu untuk berpindapata. Penduduk kota menjadi gempar. Memang mereka sering melihat seorang petapa atau brahmana berpindapata, tetapi baru sekarang mereka menyaksikan seorang berkasta Khattiya, putra dari seorang raja, berpindapata. Berita ini sampai ke telinga Raja Suddhodana, dan raja segera menemui Sang Buddha dan menegur Beliau. "Mengapakah anakku melakukan perbuatan yang sangat memalukan ini? Mengapakah anakku tidak datang saja ke istana untuk mengambil makanan? Apakah pantas seorang putra raja meminta-minta makanan di kota, tempat ia dulu sering berjalan-jalan dengan kereta emas? Mengapa anakku membuat malu ayahnya seperti ini?" 


"Aku tidak membuat ayah malu, Oh Baginda. Hal ini memang sudah menjadi kebiasaan kita," jawab Sang Buddha dengan tenang. "Apa, kebiasaan kita? Bagaimana mungkin! Tidak pernah seorang anggota keluarga kita minta-minta makanan seperti ini. Dan anakku mengatakan bahwa ini sudah menjadi kebiasaan kita?" 


"Oh, baginda, ini memang bukan merupakan kebiasaan seorang anggota keluarga kerajaan, tetapi ini adalah kebiasaan para Buddha. Semua Buddha di jaman dahulu hidup dengan jalan mengumpulkan dana makanan dari para penduduk." 


Setelah Raja Suddhodana tetap mendesak agar Sang Buddha beserta rombongan mengambil makanan di istana, maka berangkatlah Sang Buddha berserta rombongan ke sana. 


Kewajiban bhikkhu atau samanera yang berpindapatta 

Ada enam kewajiban yang harus dilakukan (kiccayatta) oleh bhikkhu atau samanera yang berpindapata. Enam kewajiban itu adalah: 

1. Ia harus mengenakan jubahnya dengan rapi. Ketika berpindapata dan setiap kali keluar dari vihara, para bhikkhu harus mengenakan jubahnya dengan tertutup rapi. Tetapi, karena di Indonesia biasanya pindapata direncanakan dan dilaksanakan di lingkungan vihara, maka jubah bhikkhu biasanya terbuka pundak sebelah. 

2. Ia harus meletakkan mangkuknya di bawah jubah (mangkuk terlindungi oleh jubah). Mangkuk merupakan salah satu dari delapan harta (attha parikara) yang dimiliki oleh seorang bhikkhu selain tiga lembar jubah, ikat pinggang, jarum-benang, saringan air, dan pisau cukur. Karena itu, seorang bhikkhu harus melindungi mangkuknya agar jangan sampai hilang atau jatuh ketika ia berpindapata. 

3. Sebelum meninggalkan vihara, ia harus menyiapkan tempat duduknya, air minum, air pencuci tangan, pencuci kaki, pencuci mangkuk, dan perlengkapan kebhikkhuan lainnya. 

4. Ia melaksanakan pindapata sesuai dengan tata tertib `Sekkhiyadhamma'. Sekkhiyadhamma adalah bagian dari Patimokkha Sila yang berisikan peraturan tentang kesopanan bagi seorang petapa. Terdapat tiga puluh peraturan tentang cara menerima makanan dan memakannya. Ketika menerima makanan, seorang Pindapatacarika (bhikkhu yang berpindapata) harus menerima makanan dengan hati-hati, perhatian pada mangkuk, menerima makanan dengan perbandingan yang sesuai yaitu satu bagian lauk dengan empat bagian nasi, dan menerima makanan sesuai dengan ukuran mangkuknya, tidak berlebihan. 

5. Ia hendaknya penuh perhatian pada waktu berada di tempat penduduk. Ketika berada di pemukiman penduduk sebagai seorang Ariya, Pindapatacarika hendaknya berlaku tenang, penuh perhatian, dan penuh pengendalian diri. Ia tidak memandang atau berbicara kepada orang yang memberinya dana makanan. Ia juga tidak boleh memilih rumah yang dihampirinya, apakah pemilik rumah itu orang kaya atau miskin karena mereka semua harus diberi kesempatan untuk berbuat baik. 

6. Ketika berpindapata, seorang Pindapatacarika tidak mengenakan alas kaki (sandal/sepatu), maka setelah ia kembali ke vihara dan sebelum memakan dana makanan hasil pindapatanya, ia harus mencuci kakinya terlebih dahulu. Begitu pula umat yang memberikan dana makanan harus melepaskan alas kaki, ketika memberikan dana makanan kepada bhikkhu yang berpindapata. 


Peraturan Pacittiya menjelaskan bahwa jika ada umat yang mengundang bhikkhu untuk menerima dana makanan, maka bhikkhu itu dapat menerima tiga mangkuk penuh apabila ia mau. Apabila ia menerima lebih dari tiga mangkuk, maka ia melanggar peraturan pacittiya. Makanan yang ia terima itu harus pula dibagi kepada bhikkhu lain. Seorang bhikkhu juga dilarang untuk makan di luar waktu yang telah ditentukan (lewat dari tengah hari). Jika melakukan hal ini, maka ia melanggar pacittiya. 

Dalam Pindapataparisudhi Sutta, Maijhima Nikâya, Sang Buddha memberikan nasehat kepada para bhikkhu agar selalu menjaga diri sehingga pikiran mereka tetap murni ketika sedang berpindapata atau ketika sedang makan yaitu dengan cara membuang nafsu keinginan, menghapus penghalang, serta mengembangkan pengetahuan tentang Tujuh Faktor Penerangan Sempurna lewat perjuangan yang terus-menerus. 

Bagi seorang bhikkhu, ada perenungan yang harus dilakukannya ketika ia menggunakan empat kebutuhan pokok, yaitu perenungan sebelum penggunaan (Tankhanikapaccavekkhana) dan perenungan setelah penggunaan (Atitapaccavekkhana). 

la harus merenungkan tujuan sebenarnya dari penggunaan kebutuhan itu. Penggunaan jubah adalah untuk melindungi tubuh dari gigitan serangga dan menutupi organ tubuh yang dapat menimbulkan rasa malu. 

Makanan untuk mengurangi penderitaan dari rasa lapar, tempat tinggal untuk melindungi diri dari bahaya iklim, dan obat-obatan untuk kesembuhan dari rasa sakit. 

Maksud dan tujuan dari perenungan ini adalah untuk mengurangi keserakahan yang muncul dari kebodohan dan kebencian, agar menimbulkan pengertian yang benar dari penggunaan empat kebutuhan pokok itu tanpa keserakahan, kebencian, dan kebodohan. 


Pahala berdana makanan 


Dalam Anguttara Nikâya IV.57, Sang Buddha memberikan khotbah singkat kepada seorang wanita dari suku Koliya, Suppavasa. 
Ia adalah ibu dari Bhikkhu Sivali, Arahat yang paling beruntung. Khotbah ini disampaikan setelah Beliau menerima dana makanan darinya. "Dengan memberikan makanan, seorang siswa yang luhur memberikan empat hal kepada penerimanya. Apakah yang empat itu? Dia memberikan usia panjang (ayu), keelokan (vanno), kebahagiaan (sukha) dan kekuatan (bala). 

Dengan memberikan usia panjang, dia sendiri akan memiliki usia panjang. 
Dengan memberikan keelokan, dia sendiri akan memiliki keelokan. 
Dengan memberikan kebahagiaan, dia sendiri akan memiliki kebahagiaan. 
Dengan memberikan kekuatan, dia sendiri akan memiliki kekuatan. 
Keempat pahala ini akan diperolehnya secara manusiawi (duniawi) dan surgawi. 

Dengan memberikan makanan, seorang siswa yang luhur memberikan empat hal kepada penerimanya." 


Merupakan kewajiban bhikkhu (vatta), setelah menerima dana makanan membacakan Anumodana Gatha atau khotbah Dhamma singkat kepada umat yang berdana. Kalimat yang diucapkan biasanya berbunyi, "Ayu, vanno, sukham, balam" artinya semoga Anda panjang umur, cantik/tampan (elok), bahagia, dan kuat. 


Sumber: 

Biro Pendidikan Bhikkhu/Samanera Sangha Theravada Indonesia, Samanera Sikkha. 
Widyadharma, Sumedha, MP., Riwayat Hidup Buddha Gotama, cetakan ketigabelas, Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda, 1993 
Dra. Lanny Anggawati dan Dra. Wena Chintiawati, Anguttara Nikaya 2, Vihara Bodhivamsa Klaten, 2002 

Thanks for BUMI (Buddhis Muda Indonesia) Tangerang for share this article..let me share this artikel for more people. :) 

APABILA ANDA MERASAKAN MANFAAT DARI ARTIKEL INI klik link ini   Be Happy!  :)

Jumat, 04 Februari 2011

Ajahn Brahm Datang Lagi

Oh senangnya hatiku..dengar kabar bahwa Ajahn Brahm akan datang lagi ke negeri Indonesia ini.

hmm sebelumnya apa rekan-rekan semua sudah mengenal Ajahn Brahm.
berikut saya jabarkan biografi ajahn..hasil kutipan saya dari website lain

Tentang Ajahn Brahm
Ajahn Brahm lahir di Inggris pada tanggal 07 Agustus 1951, dengan nama Peter Betts. Keluarganya merupakan keluarga yang terbilang sederhana dan pas-pasan. Ayahnya wafat tatkala beliau masih kecil. Ajahn Brahm juga punya seorang kakak laki-laki, yang saat ini bekerja sebagai investment banker.
Karena cerdas, beliau selalu memperoleh beasiswa, dan pada penghujung tahun 60’an beliau memperoleh beasiswa untuk mempelajari Fisika Teori di sebuah universitas kondang di Inggris, Cambridge University, tempat para fisikawan ternama seperti Sir Isaac Newton dan Sir Stephen Hawking berkarya. Setelah lulus, beliau mengajar di sekolah menengah atas selama 1 tahun sebelum akhirnya pergi ke Thailand untuk menjadi bhikkhu.
Di Thailand, Ajahn Brahm ditahbiskan di Bangkok pada usia 23 tahun oleh kepala Wihara Wat Saket, Somdet Pootajahn. Selanjutnya, beliau melewati 9 tahun belajar dan berlatih dalam tradisi bhikkhu hutan di bawah bimbingan Ajahn Chah Bodhinyana yang tersohor itu.
Setelah itu, Ajahn Brahm diundang datang ke Perth, Australia, oleh Buddhist Society of Western Australia (BSWA), untuk membantu Ajahn Jàgaro mengemban tugas mengajar. Awalnya, kedua bhikkhu ini tinggal di sebuah rumah tua di pinggiran Perth Utara. Tapi, pada akhir 1983, BSWA membeli 39 hektar tanah dan wilayah hutan di Pebukitan Serpentine, di Perth Selatan. Area itu kelak menjadi Wihara Bodhinyana (“Bodhinyana” adalah nama guru mereka, Ajahn Chah Bodhinyana). Wihara ini adalah tempat pertama yang khusus diperuntukkan sebagai wihara di belahan bumi Selatan. Saat ini, Wihara Bodhinyana memiliki komunitas bhikkhu terbanyak di Australia.
Pada awalnya, tidak ada bangunan di area tersebut. Berhubung hanya ada segelintir umat Buddha di Perth saat itu, dan karena minimnya pendanaan, untuk menghemat uang, para bhikkhu itu sendiri mulai melakukan pembangunan. Ajahn Brahm akhirnya belajar cara memasang pipa ledeng dan memplester batu bata. Dengan tangannya sendiri, beliau membangun cukup banyak bangunan di sana, yang sampai saat ini masih berdiri.
Pada tahun 1994, Ajahn Jàgaro meninggalkan Australia Barat, lalu lepas jubah setahun kemudian. Kepemimpinan wihara akhirnya diemban alih oleh Ajahn Brahm. Segera, beliau banyak diundang untuk memberikan ceramah di pelbagai tempat di Australia dan Asia Tenggara. Beliau pernah menjadi pembicara di International Buddhist Summit di Phnom Penh tahun 2002, dan pembicara dalam 3 konferensi global mengenai Buddhisme. Beliau juga membaktikan waktu serta perhatiannya pada kaum sakit dan sekarat, pada mereka yang dipenjara, orang-orang yang mengidap kanker, orang-orang yang ingin belajar bermeditasi, serta melayani sanggha (persamuhan) bhikkhu di Wihara Bodhinyana.
Ajahn Brahm juga sangat berpengaruh dalam menjadikan Wihara Dhammasara sebagai wihara yang sepenuhnya mandiri. Wihara ini adalah wihara para biarawati Buddhis di Gidgegannup, di daerah pebukitan, Perth Timur Laut. Di wihara itu, saat ini Ajahn Vàyama bertindak sebagai kepala wiharanya.
Sewaktu baru saja menjadi bhikkhu, Ajahn Brahm pernah diminta untuk menyusun pedoman Vinaya dalam bahasa Inggris. Pedoman ini kelak menjadi dasar bagi disiplin monastik di banyak wihara Theravàda di negara-negara Barat. Saat ini, Ajahn Brahm menjabat sebagai:
  • Kepala Wihara Bodhinyana, di Serpentine, Australia Barat,
  • Direktur Spiritual Buddhist Society of Western Australia (BSWA),
  • Penasihat Spiritual bagi Buddhist Society of Victoria,
  • Penasihat Spiritual bagi Buddhist Society of South Australia,
  • Pelindung Spiritual bagi Buddhist Fellowship, Singapura,
  • Pelidung Spiritual bagi Bodhikusuma Centre di Sydney, Australia.
Pada bulan Oktober 2004, Ajahn Brahm dianugerahi medali John Curtin (di Curtin University, Australia) untuk visi, kepemimpinan, dan pelayanannya bagi masyarakat Australia. Saat ini beliau tengah bekerja dengan para bhikkhu dan bhikkhunã dari semua tradisi Buddhis untuk mendirikan Asosiasi Sanggha Australia.
Ajahn Brahm, pemegang kewarganegaraan ganda Australia dan Inggris ini, adalah penulis buku bestseller internasional Opening the Door of Your Heart (yang diterbitkan di Amerika Serikat dengan judul Who Ordered This Truckload of Dung?). Buku ini sudah diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Awareness Publication dengan judul “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. Beliau juga menulis buku panduan meditasi, Mindfulness, Bliss, and Beyond, yang diterbitkan oleh Ehipassiko dengan judul “Superpower Mindfulness”.
Buku lain beliau adalah “Hidup Senang Mati Tenang”, kompilasi ceramah dan tanya-jawab beliau di pelbagai belahan tempat di dunia. Buku ini hanya ada dalam versi bahasa Indonesia, diterbitkan oleh Ehipassiko. Pada tahun 2010, Awareness menerbitkan catatan perjalanan beliau ke Indonesia tahun 2009 yang dijuduli: “Horeee! Guru Si Cacing Datang”.


Pengalaman Pribadi with Ajahn Brahm

Photo diatas satu moment paling berharga dalam hidup saya..lihatlah yang membuat saya kagum kepada ajahn adalah senyumnya. hampir disemua photo dengan kurang lebih 1000 orang hampir semua mendapat senyum yang sama. yang saya sebut "HAPPINESS SMILE".

hihi semoga saya bisa mendapat photo bersama lagi tahun ini.

Jadwal Acara

Tanggal & Waktu

Minggu, 20 Maret 2011
Pukul 13.00 - 18.00 WIB
Tema : Keindahan Hati, Kedamaian Pikiran

Lokasi

Central Park, Podomoro City, Ballroom, Lantai P17
Jl. Letnan Jendral S. Parman Kav. 28, Jakarta 11470

Tiket

Diamond: Anggota BFI/E* & Sponsor Acara**
Platinum: Rp. 200.000,-
Gold: Rp. 100.000,-
Silver: Rp. 50.000,-
 penyelenggara : Buddhist Fellowship Indonesia
 


 
Acara Ajahn Brahm 27 Maret 2011
‘LET GO EGO’
Ballroom Central Park
Jl. Let. Jend. S.Parman Kav. 28 Lantai L (P17)
Jakarta 11470

Penyelenggara : Vihara Pluit Dharma Sukha & Ehipasiko Foundation

pendaftaran kunjungi website http://www.ajahnbrahmkeindonesia.com/


Be Happy ! ^^